Showing posts with label Heart to Heart. Show all posts
Showing posts with label Heart to Heart. Show all posts
0

Kehilangan itu haruskah dimiliki :)

Saturday, June 11, 2011
Diawali dengan berdiri di tengah pantai, sendiri. Tapi anehnya tak terdengar suara laut atau ombak sedikitpun. Aku berdiri, tanpa senyum, juga tanpa terlihat emosi di bibir, tanpa raut wajah apapun. Kosong saja.

Yang terdengar hanya suara piano tua. Tidak berdenting nyaring bernada tinggi, hanya membuka kunci lebar… Jenggg….. bukan Tinggg… memberi nuansa kosong yang anggun dan pedih, meskipun tanpa satupun kunci minor. Tapi nuansa yang ia berikan berkata: ini bukan keceriaan… 

Suara itu mendengung di kepalaku. ngungg… ngungg… pelan-pelan suara anggun piano yang sepi itu diikuti dengan suara merdu, nyaris seperti suara malaikat…





"Hei, Nak! Kau tak mampu melepasnyawalau pun ternyata sesuatu yang tak mampu kau lepas itu sudah tak ada."
"Itu semua karena batinmu tetap merasa, bahwa kau masih  memilikinya…"
Ngunggg… ngunggg…
suara merdu itu berubah tak jelas, menjadi dengungan lagi. “Kalimat apa yang dikatakannya ini?” gumamku, sementara aku masih saja berdiri datar di pantai sepi ini…

Hanya suara saja yang ada, tak ada yang lain. Tapi entah mengapa aku yakin, kalau malaikat itu mengatakannya sambil tersenyum damai 



"Itulah hukum alam. Tak ada yang abadi! Percayalah, Nak! Walau aku tahu kau tak percaya dengan sepenuh jiwa."
Ngunggg…. ngunggg…. 
Lanjutan kalimat sang malaikat berubah menjadi dengungan lagi.

Hmm… aku sedang sesak.

Ada seribu kata di ujung tenggorokan yang ingin berhamburan, tapi lidah hanya bisa menelan ludah. Menelan makanan pun ditolak kerongkongan, karena disana kata-kata sedang berdesakan. Kata-kata yang berdesakkan di kerongkongan itu tak punya jalan keluar.

Malaikat…
kini ia hanya mengulang-ulang kata-katanya lagi. Mungkin ia memberiku kesempatan untuk bercakap dengan hatiku sendiri.

Aku bukan seorang pencerita.

Tak pula punya teman bercerita. Bagiku, adalah lemah bila orang lain tahu lukaku. I’m just an aloner. Hanya itu. Bisa saja ku terlihat selalu bercanda, selalu ceria, seperti yang selalu teman-teman katakan tentangku; karena memang itulah cermin diriku yang kuingin agar tertanam di mata kalian.

Disaat ini, aku mulai merasa larut di lumpur hisap masalah. Nyaris diam menyerah dan berhenti menendang-nendang berontak lagi. Untungnya, itu sampai hal menakjubkan ini terjadi.

Poster di dinding samping lemariku bergerak-gerak. Poster Soekarno yang sedang berdiri tegap. Bung Karno dalam poster itu begitu saja bangkit berdiri. Ia melotot padaku.

“Hei, Dewa!!!” hardiknya, sementara aku melongo saja, “tak malukah perasaanmu padaku, hah? Aku dipenjara, nyawaku dihargai ratusan gulden oleh penjajah itu! Tapi aku berdiri menantang, sementara kau mencla-mencle begini. Di atas timba pembuangan kotoranku, di dalam bui yang bila ku rentangkan tangan maka kedua telapak tanganku akan menyentuh dindingnya, aku tidak ikut mengkerut. Aku malah melahirkan “Indonesia Menggugat”, yang jadi bacaan masyarakat dunia itu.”

Bung Karno diam sejenak, mengambil nafas, lalu ia melanjutkan;
“Masih merasa merana kah engkau, hei anak manja???” Bung Karno menatapku lekat-lekat dari dinding, “bangun, anakku! Bangung sekarang, SEKARANG, dan sekali lagi SEKARANG!!!”

Aku masih melongo, mengusap-usap mata. Poster Putra Sang Fajar di dindingku baru saja meloncat keluar???
 
“hehe…” terdengar suara tawa kecil yang tak asing dari atas meja. Aku menoleh kearahmnya, dan keheranan lagi. Nyaris aku meloncat dari duduk sila ku.

“Dewaa… dewa… hehe” Gusdur tersenyum padaku bersama Daisaku Ikeda, berdiri dari sampul buku Dialog Peradaban yang kutaruh diatas meja.

“Masih muda begini. Jangan merasa merana gitu ah… wong saya aja tetep jalan terus biar berusaha disingkirkan mati-matian sama Pak Harto. Berapa hayo keluarga saya matinggak wajar gara-gara saya gak akur sama Orba. Hayo, bangun, senyum… nah kayakgitu. Kamu anak bangsa, jadi kamu cucu saya. Lha iya lah, saya kan Bapak Bangsa,” pesannya sambil terkekeh.


“… rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya…”

mengapa aku baru sadar, mengapa sejak dulu ku sangka kata “memilikinya” di lirik ini berarti “memiliki dia”???
Bukan itu maksud partikel “nya” disini……
rasa kehilangan itu hanya akan ada, bila kau pernah merasa memiliki “rasa kehilangan” itu.


0

Read and Smile (: Let's talk about God

Tulisan yang sesuai judulnya...
"baca, dan tersenyumlah...." 

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?". 


Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,
"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan." 

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.


Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,
"Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."

Mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak."

"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna."

"Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab,
"Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan."

"Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Dan mahasiswa itu adalah,

Albert Einstein.  






0

Last of "International Super Hits" + Musik

Lagu terakhir side B, album "International Super Hits"...







Kadang-kadang aku merasa paham, mengapa Greenday menempatkan lagu ini jadi penutup albumnya...




When I was a kid, I thought... I wanted all the things that I haven't got.


Oh, but I learned the hardest way.
Then I realized what it took, to tell the difference between thieves and crooks.
A lesson learned for me and you...
Menjadi dewasa mungkin berarti...
tidak menerima sesuatu yang kita inginkan, tapi kita tak bisa merenggut dan merengek lagi, seperti waktu kita kecil dulu. Realize it... Aku hanya bisa menelan ludah...
yeah... I'm not a good boy, I'm a weird one... a man of ego,  I see this world is so ugly, and fake, anything weird spiritual eye glass... 
I'm bad... you, world, deserve better...
yeah...


Hati itu seperti air...
Bila kau tak punya sterilized machine yang mahal, biarkan waktu yang mengendapkan semua debu didalamnya...











0

PERBEDAAN KRISTEN,ISLAM,BUDHA,HINDU

Friday, June 10, 2011
Ini dia bagi orang yang fanatik akan agama nya sendiri.. lu liat deh beda nya apa biar lu semua tau beda nya agama thu.. ^^

oke kita mulai sekarang ya..
cek aja view nih thread biar lu tau semua..
check this out !!

KRISTEN

BERDOA DENGAN KHUSUK DI GEREJA

BERNYANYI MEMULIAKAN TUHAN

MISIONARIS MEMBANTU SESAMA

Nah.. keren kan? Coba bandingin sama Islam

Nah.. keren kan? Coba bandingin sama Islam


BERDOA DENGAN KHUSUK DI MASJID

BERNYANYI MEMULIAKAN ALLAH

TENTARA AMERIKA BERAGAMA ISLAM MENYELAMATKAN ANAK DARI MEDAN PERANG

Bandingin nih sama Buddha ?

MEREKA BERDOA DENGAN KHUSUK DI VIHARA

UMAT BUDHA BERNYANYI MEMULIAKAN TUHAN

PARA BIKSU MEMBERSIHKAN SISA PUING SETELAH GEMPA

Bandingin nih sama Hindu coba..

BERDOA KHUSUK DI PURA

UMAT HINDU BERNYANYI MEMULIAKAN PARA DEWA

UMAT HINDU MEMBANTU PEMBANGUNAN MASJID


jadi apa yang sebenarnya berbeda dari kita? kita sama-sama memuji Tuhan, membantu sesama, dan mengidamkan perdamaian.
Marilah kita sebagai warga Indonesia menjunjung tinggi kedamaian dan kerukunan antar umat beragama, tanpa ada rasa iri dengki dan sebagainya.
semoga pesan saya bisa tersampaikan melalu thread ini.
0

Hargai Apa yang Kita Miliki..

Wednesday, April 13, 2011
Pernahkah Anda mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan
dalam kondisi buta dan tuli.

Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm
kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.

Tidak ada seorangpun yang menginginkan
lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya
Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan
memilih untuk lahir dalam keadaan normal.

Namun siapa sangka, dengan segala
kekurangannya, dia memiliki semangat hidup
yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.

Dengan segala keterbatasannya, ia mampu
memberikan motivasi dan semangat hidup
kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.

Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti
dirinya mampu menjalani kehidupan seperti
manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit
dilakukan. 

Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah
diucapkan Helen Kehler:

"It would be a blessing if each person
could be blind and deaf for a few days
during his grown-up live. It would make
them see and appreciate their ability to
experience the joy of sound".

Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah
bila setiap org yang sudah menginjak dewasa
itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja.

Dengan demikian, setiap orang akan lebih
menghargai hidupnya, paling tidak saat
mendengar suara!

Sekarang, coba Anda bayangkan sejenak....

......Anda menjadi seorang yang buta
dan tuli selama dua atau tiga hari saja!


Tutup mata dan telinga selama rentang waktu
tersebut. Jangan biarkan diri Anda melihat
atau mendengar apapun.

Selama beberapa hari itu Anda tidak bisa
melihat indahnya dunia, tidak bisa
melihat terangnya matahari, birunya langit, dan
bahkan Anda tidak bisa menikmati musik/radio
dan acara tv kesayangan!

Bagaimana ? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?

Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja,
bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur
atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada
dalam diri kita!

Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah
keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah
menghargai apa yang sudah kita miliki.

Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan
kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati
oleh orang lain. Ya! Kemewahan utk orang lain!

Coba Anda renungkan, bagaimana orang yang
tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah
kemewahan yang luar biasa baginya.

Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia
diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin
akan mampu melakukan banyak hal, termasuk
membuat sebuah tulisan yang menarik.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita
mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal
yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan
bisa memandang hidup dengan lebih baik.

Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif
dan menjadi seorang manusia yang lebih baik. 
0

Psikotest Dari Jepang ( Anda Akan Kaget ! )

Tuesday, April 12, 2011
Dear all, untuk mencairkan sedikit suana gwe posting psikotest dari Jepang yg di terjemahin ke Bahasa Indonesia, coba deh di isi sebentar, hasilnya cukup fun loh... kebetulan hasilnya juga banyak yang bener pas gw coba, bagaimana dengan anda ? Janji jangan lihat jawabannya ya, .. dan jangan kelamaan mikirnya, cukup tulis yg pertama terlintas dibenak anda. That's the whole point...here it goes :

Pertama-tama siapkan bolpen dan kertas.
Waktu memilih nama, anda harus memilih orang
yang anda kenal. Jangan terlalu banyak mikir,
tulislah apa yang ada di kepala anda.

INGAT : Maju satu paragraf per paragraf...
Kalau anda membaca kelanjutannya, Permohonan anda tidak akan terkabul.

1.. Pertama-tama tulis angka 1 sampai sebelas dikertas anda secaravertikal (atas ke bawah)

2.. Tulis angka yang paling kamu senang (antara 1-11) disebelah angka No.1 dan 2

3.. Tulis 2 nama orang (lawan jenis) yang kamu
kenal, masing-masing di No.3 dan No.7

4.. Tulis 3 nama orang yang kamu kenal di No.4, 5,
dan 6. Disini kamu boleh menulis nama orang di
keluarga, teman, kenalan. Siapapun OK. Cumaharus yang kamu kenal

5.. Di no.8, 9, 10 dan 11 kamu tulis nama judul
lagu yang berbeda-beda

6.. Terakhir, tulis kamu punya permohonan.
(Kamu minta permohonan )

Sudah???...... kalau sudah semua, coba lihat dibawah hasilnya


DAN HASILNYA ADALAH .... :

1.Anda harus memberitahu ke orang yang anda tulis di No. 7 tentang psi kotest ini.

2.Orang yang anda tulis di No.3 adalah orang yang kamu cintai.

3.Orang yang anda tulis di No.7 adalah orang yang kamu suka, tetapi bertepuk sebelah tangan.

4.Orang yang anda tulis di No.4 adalah orang yang anda rasa paling penting bagi anda.

5.Orang yang anda tulis di No.5 adalah orang yang paling mengerti tentang anda.

6.Orang yang anda tulis di No.6 adalah orang yang membawa keberuntungan pada anda.

7.Lagu yang anda tulis di no. 8 adalah lagu yang ditujukan untuk orang No.3

8.Lagu yang anda tulis di no.9 adalah lagu yang ditujukan untuk orangNo.7

9.Lagu yang anda tulis di no.10 adalah lagu yang melukiskan apa yang ada di hati anda.

10.Terakhir, lagu yang anda tulis di No.11 adalah lagu yang melukiskan hidup anda.

BAGAIMANA APAKAH CUKUP JITU ?
0

5 Dosa Saat Minta Maaf

Sebagai manusia, Anda pasti pernah melakukan kesalahan, baik pada kerabat maupun pasangan tercinta. Biasanya, setelah menyadari kesalahan yang telah diperbuat, Anda akan meminta maaf. Tetapi, apakah Anda sudah meminta maaf dengan tepat?

Mungkin doa-doa ini tak dikenal pada masyarakat yang mengaku dirinya sering berdoa.
Menurut Max Davidson, seorang penulis buku asal Inggris, "Maaf" adalah kata yang paling sulit untuk diucapkan. Namun, ketika diucapkan ada caranya agar si pemberi maaf bisa kembali mempercayai Anda. Untuk itu, Anda perlu menghindari lima 'dosa' saat meminta maaf berikut, seperti dikutip dari Telegraph.

1. Permintaan maaf yang berfungsi sebagai alasan
Jika ingin meminta maaf, katakanlah dengan tulus. Jangan merusaknya dengan menyampaikan alasan demi pembenaran kesalahan yang Anda lakukan. Berkata "Maafkan aku ya sayang", menurut Davidson 20 kali lebih baik daripada mengatakan, "Maafkan aku ya sayang, karena aku lelah di bawah tekanan dan di luar kendali" atau alasan apapun itu. Simpan alasan Anda, jika memang ditanya.

2. Minta maaf bersyarat
Meminta maaf seharusnya adalah tindakan tulus, seperti pernyataan cinta. Jika Anda mengajukan syarat atau berandai-andai dengan menyisipkan 'jika', akan sulit mendapatkan maaf orang lain. Jadi, hindari mengatakan "Maaf jika aku menyakiti kamu" atau sejenisnya. Dengan meminta maafnya seharusnya Anda sudah sadar kalau telah menyakiti orang lain.

3. Air mata
Menangis saat meminta maaf memang terkadang sebuah reaksi alami. Tetapi, air mata seringkali malah membuat orang lain mengira Anda berpura-pura. Sesedih apapun perasaan yang Anda rasakan, minta maaflah dengan tegas dan tulus, buatlah orang percaya dengan ketulusan Anda.

4. Menyalahkan orang lain
Jangan pernah meminta maaf sambil menyalahkan orang lain. Hal itu hanya akan membuat Anda seperti orang bodoh. Dengan menyalahkan orang lain, berarti Anda tidak tulus meminta maaf dan tidak menyadari kesalahan.

5. Tidak tegas
Maaf sangat ambigu, jadi perjelas pemintaan maaf Anda dengan kalimat yang lengkap. "Aku minta maaf atas kesalahan yang dilakukan", adalah penggambaran permintaan maaf. Sedangkan "Aku minta maaf atas apa yang telah terjadi" adalah gambaran penyesalan.
0

Belajar Mengatakan Tidak

Banyak di antara kita hidup sebagai sosok yang terbelenggu untuk selalu mengatakan ”ya”, padahal dalam hati kita sebenarnya ingin sekali mengatakan ”tidak”, baik untuk kepentingan diri kita sendiri maupun untuk kepentingan orang yang cenderung bergantung pada kita. Apalagi, kita berpikir bahwa ketergantungan pada kita, justru membuat orang tertentu tidak mandiri, tidak berkembang karena selalu kita berikan pertolongan padanya dan dengan mudah pula, dirinya mengulang dan mengulang minta tolong pada kita.

”Ibu, saya adalah kakak dari seorang adik laki-laki (H) yang sudah berumur 36 tahun, kami dua bersaudara dan kedua orangtua kami sudah sekitar 7 tahun yang lalu meninggal dunia selang beberapa bulan. Saat orangtua meninggal dunia, H sudah sarjana dan saya sendiri juga sudah berkeluarga dengan 2 anak. H sebenarnya cukup sukses dalam karier, saya rasa gajinya bahkan berlebih untuk hidupnya sendiri, tapi H belum bermaksud berumah tangga, H tinggal di kota J dan menyewa satu paviliun di daerah elite di J.

Tadinya, H hidup mandiri bahkan saat kedua orangtua saya masih hidup, H sanggup mengirim uang setiap bulan untuk menunjang kehidupan orangtua. Memang saat orangtua hanya berselang beberapa bulan meninggal dunia karena penyakit yang mereka derita, H tampak terpukul, hingga beberapa bulan terserang depresi, seolah gairah hidupnya sirna.

Syukurlah dengan berobat kepada seorang psikiater di J, akhirnya H pulih kembali dan bekerja seperti biasa. Namun apa yang terjadi, H menjadi seorang pengeluh, kalau mengeluh sampai hampir setengah jam menelepon saya. Tadinya karena saya kasihan, selalu saya tanggapi dan dengarkan sambil memberinya nasihat-nasihat agar H tidak sedih, seberapa lama pun H menelepon. Namun, lama-kelamaan setiap telepon, ujungnya selalu meminta saya meminjamkan uang untuk satu kegiatan. Kalau saya tanya untuk apa, H tidak mau menjelaskan secara rinci.

Saya tidak berani menolak keinginannya karena saya takut H terserang depresi lagi. Saya perhatikan jeda waktu menelepon dengan keluhan bertubi, baik dari kantor tempatnya bekerja maupun dari kehidupan kesehariannya semakin singkat, bahkan dalam beberapa kali terakhir ini, setiap sekitar 15 hari, H menelepon, mengeluh dan minta dikirimi uang, dengan janji akan dikembalikan beberapa minggu lagi. Namun, hingga saat ini H belum pernah mengembalikan uang saya.

Sementara saya sendiri masih banyak kebutuhan karena kedua anak saya sudah menjelang remaja. Dalam masalah H ini, memang saya tidak terbuka pada suami karena saya juga bekerja dan saya tidak mengganggu uang suami. Bu, apa yang harus saya lakukan, saya jenuh dan kesal, tapi tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi perilaku H ini. ”

K (40 tahun) Belajar untuk tidak selalu berperan sebagai penolong

Dari analisa persoalan yang dihadapi K, kita belajar bahwa tampaknya K khawatir hubungan dengan adiknya rusak bila dirinya tidak menanggapi keluhan H. Namun, saat ini justru K merasa pertolongan yang diberikan pada H menjadi sangat berlebihan sehingga membuat H akhirnya menjadi sangat manipulatif memanfaatkan kebaikannya.

Memang, menjaga relasi tetap baik dengan siapa pun tidak mudah, namun bila jenis relasi yang terbina justru membelenggunya, berarti K harus melakukan sesuatu. Untuk itu, K harus menutup pola relasi yang selama ini telah terbina dengan H, dengan cara menghentikan pertolongan berlanjut. Apa yang harus dikatakan saat H meneleponnya adalah:

”Saya tahu saat ini saya tidak bisa menolong kamu lagi, saya hanya ingin tahu apa yang saat ini kamu kerjakan dan membuat dirimu tahu bahwa saya memberikan perhatian padamu.”

Tentu saja perubahan pola relasi secara tiba-tiba akan mengganggu perasaan keduanya, tetapi kondisi ini harus diupayakan. K juga harus mengatakan bahwa dia terlampau sibuk untuk berlama-lama menanggapi keluhan H di telepon. Agar perubahan pola relasi tidak memberikan pengaruh yang buruk, hendaknya K pun mengajak H mengunjungi rumahnya di kota T, dengan mengatakan:

”Datanglah minggu depan, kita makan bersama keluargaku, kamu bisa ketemu dan bercanda dengan keponakan-keponakanmu, ya.”

Dengan ajakan ini, K menanamkan pengertian bahwa perubahan pola relasi tidak berarti memutuskan hubungan silaturahim dengan keluarga. Memang sulit juga menjalin pola relasi baru dalam situasi ini, tetapi K harus menguatkan hatinya. Untuk kemudian di saat yang tepat, menyatakan bahwa, ”Terus terang saya sendiri saat ini banyak keperluan, sehingga tidak mungkin lagi meminjamkan uang padamu.”

Melalui kalimat ini, K mengomunikasikan bahwa persoalan dalam hidup tidak hanya dihadapi oleh H seorang. Bahwa setiap orang memang harus mencoba mengatasi persoalan dalam kehidupannya.

Reaksi kontra

Pasti ada reaksi kontra, baik dari diri K maupun H. K akan merasa dirinya sebagai sosok kakak yang tidak bertanggung jawab terhadap adiknya dan H akan berupaya merengek dengan mengatakan bahwa tega betul kakaknya, tidak mau membayarkan sewa paviliun, ”aku akan tinggal di mana, kalau terusir dari kontrakan ini karena belum terbayar?” dan sebagainya, dan sebagainya.

Situasi ini akan membuat seseorang masuk dalam situasi dilematis, yang sangat berat, dalam hal ini, terutama bagi K. Apakah akan menolong kembali adiknya, membayarkan uang kontrakan bagi adiknya, yang otomatis akan membuat mereka kembali pada pola relasi lama (K menolong H dan H selalu mendapat pertolongan dari K).

Bila sampai pada situasi ini, tentu saja, K harus menguatkan diri dengan terus-menerus hanya memberikan dukungan emosional serta kontak berlanjut pada H. Sampai akhirnya, baik K maupun H menyadari akan kenyataan ungkapan sebagai berikut, ”Siapa yang bertanggung jawab terhadap apa”.